Pilihan

Sebelum aku memilih jalur mana yang harus aku pilih, kiri atau kanan, ada baiknya aku berhenti sejenak. Tidak ada salahnya untuk melihat-lihat terlebih dulu.

Coba kalian tebak, apa yang aku lihat di jalur kanan? Aku melihat sebuah cermin yang membuatku bisa melihat apa yang ada di belakangku, tanpa harus menoleh ke belakang.

Dan coba kalian tebak, apa yang aku lihat di jalur kiri? Di sana tidak ada cermin sama sekali.

Bisa kah kalian tebak, kiri atau kanan, jalur yang aku pilih? Tidak bisa? Kalian harus mengenalku untuk mengetahui jawabannya.

09102013/HR

Dance

Pada suatu hari, aku bertemu dengan dua orang gadis. Yang satu hobi menari, dan yang satunya hobi berdansa.

Yang hobi menari tinggal di desa. Wajahnya teramat manis, yang jika terlalu sering dilihat akan menyebabkan diabetes. Kalau dilihat dari penampilan dan sikapnya, hidupnya penuh dengan perjuangan. Dia suka sekali makanan khas daerah, seperti: rendang, gado-gado, lumpia, dsb,-

Sedangkan yang hobi berdansa tinggal di kota. Wajahnya teramat gurih, yang jika terlalu sering dilihat akan menyebabkan hypertensi. Jika dilihat dari sikap dan penampilannya, hidupnya penuh dengan petualangan. Makanan favoritnya ala luar negeri, seperti: steak, salad, pizza, dsb,-

Aku sempat heran waktu itu, ketika mengetahui bahwa yang hobi menari tidak bisa berdansa dan yang hobi berdansa tidak bisa menari. Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi, itu tidaklah aneh. Karena memang hobi dan keahlian mereka berbeda.

Dan yang membuat aku heran adalah, ketika mengetahui bahwa mereka berdua sama-sama tidak bisa joget. Mungkin, mereka berdua memang tidak suka joget.

Yang membuat diriku senang berkenalan dengan kedua gadis ini adalah, mengetahui bahwa mereka berdua bisa goyang.

29102013/HR

Bosan

Kemarin, jam delapan malam, aku berkenalan dengan seorang gadis di sebuah cafe. Dia itu seorang gadis yang cantik tapi lugu, seksi tapi penakut, pintar tapi pendiam, pengertian tapi manja, dan dia masih jomblo. Seperti itulah penilaianku setelah lima belas menit berbincang-bincang dengannya. Entah apa nilaiku dimatanya.

Misalkan waktu itu aku mengobrol lebih lama denganya, anggap saja tiga puluh menit, mungkin penilaian ku tentangnya jadi berbeda. Mungkin penilaianku jadi seperti ini: dia itu cantik, seksi, pintar, pengertian, dan sedang mencari pasangan.

Dan jika pada saat itu aku mengobrol lebih lama lagi, anggap saja empat puluh lima menit, mungkin penilaianku tentangnya akan berubah. Mungkin akan seperti ini: dia itu lugu, penakut, pendiam, manja, dan sedang menikmati masa lajang.

Andaikan pada waktu itu aku lebih lama lagi berkenalan dengannya, angap saja satu jam, mungkin aku malah tidak bisa menilainya. Bahkan mungkin prediksiku akan dirinya jadi lemah, hilang konsentrasiku padanya. Dan bisa jadi aku malah menyesal berkenalan dengannya. Entah apa yang dia pikirkan tentang aku.

Kembali ke awal. Setelah lima belas menit berbincang-bincang dengan si gadis itu, kami pun berpisah. Dia pulang meninggalkan cafe, dan aku masih di tempat. Empat puluh lima menit kemudian, pacarku datang tepat jam sembilan malam. Aku pun langsung menyambutnya, dan makan malam pun siap ditunaikan sesuai perjanjian.

Dengan suara prima, “mau pesan apa? ada menu baru loh.” aku bertanya kepada pacarku.

Dan dengan suaranya yang merdu, “ada yang baru ya? hmm… gak usah deh, yang lama aja. Rasanya masih enak yang lama.” pacarku menjawab.

Pacarku tersenyum manis menatap wajahku, dan aku pun berkata “o…” dengan suara perkasa.

31102013/HR

Kecap

Kecap hitam? Kecap manis? Namanya juga kecap. Bisa saja yang jahat itu kecap manis, dan yang baik itu kecap hitam.

Kalau yang jahat kecap manis, berarti keberuntungan sedang berada dipihaknya. Semoga akan terungkap keburukannya dilain kesempatan.

Yang sial itu kalau yang baik malah kecap hitam, sungguh kasihan nasibnya. Semoga diberi ketabahan serta kesabaran, semoga akan terungkap kebaikannya dilain waktu.

Apa lagi di akhir zaman begini, banyak orang asal ngecapin. Sehingga banyak penjahat kecap manis dan pahlawan kecap hitam, yang bisa membuat penjahat lolos dan pahlawan terbenam. Bisa kacau jadinya!

Kalau sudah kecap, biasanya lengket dan nodanya itu susah hilang. Oleh karena itu, dibutuhkan pengamatan tajam untuk bisa membuat si jahat kecap hitam dan si baik kecap manis. Dan juga dibutuhkan ilmu pengetahuan khusus supaya tidak berantakan ngecapinnya.

Jangan sampe kedelai dan keledai bertukar tempat gara-gara sembarangan ngecapin. Dan jangan sampe orang bule kecap hitam-manis, karena sudah jelas kalau orang bule itu mayonnaise.

Semoga si tukang cap itu semakin teliti dalam melakukan pekerjaannya, agar tidak salah memberikan tanda, sehingga yang baik bisa dicap baik dan yang jahat dicap jahat.

Kecap? ya, namanya juga kecap. Ada yang suka, ada juga yang tidak suka. Kalau kalian, suka kecap? kalau suka, kecap apa yang kalian pilih? Kalau aku sih, lebih suka kecap pedas-cabe rawit.

01112013/HR

Penelitian

Aku melakukan sebuah penelitian kecil-kecilan, penelitian dalam bidang sosiologi. Atau mungkin bisa dibilang lebih kepada PPKN dibanding biologi. Mungkin juga penelitian ini berkaitan dengan sejarah, atau bisa juga masuk bagian ekonomi. Dan tidak menutup kemungkinan jika penelitian ini masuk ke dalam kategori pendidikan jasmani. Yang jelas, penelitian ini tidak ada kaitannya sama matematika, fisika, kimia, dan juga agama. Tapi jika kalian menganggap penelitian ini ada hubungannya dengan kesenian atau bahasa Indonesia, tidak apa, aku maklumi.

Dan dikarenakan ini sebuah penelitian kecil-kecilan, jadi tidak usah dibesar-besarkan. Kenapa aku melakukan penelitian ini? Karena aku ingin tahu, Ada berapa macam tipe orang di dunia kita ini?

Singkat cerita. Setelah diteliti, tak disangka-sangka hasil yang aku dapatkan sungguh mengejutkan. Atau mungkin hanya aku yang terkejut. Aku sungguh terkejut, bukan main petasan kagetnya.

Ternyata, di dunia ini hanya ada dua macam tipe orang. Yaitu,
Pertama: Tipe orang macam itu.
Kedua: Tipe orang macam ini.

Dari sekian banyak orang di dunia ini, hanya ada dua macam tipe orang saja? Bukankah ini sebuah hasil penelitian yang mencengangkan? Hasil penelitian ini benar-benar akan menggebrak setiap meja yang ada.

06112013/HR

Sepele

Pacarku ngambek. Hanya karena hal selele, aku dan pacarku bertengkar. Sebenarnya aku tidak ingin memberitahu kalian, tapi menurutku ini perlu diceritakan, karena mungkin saja kisahku ini bisa dijadikan pelajaran. Entah itu pelajaran apa, terserah pemahaman kalian sajalah. Begini ceritanya.

Bermula dari rencana makan malam bersama.

Aku bertanya pada pacarku “jadi kita malam ini makan pecel lele?” dengan suara rendah berwibawa.

Pacarku menjawabnya “iya jadi dong. Ini kan kita lagi jalan kesana.” dengan suaranya yang belum pernah kalian dengar seperti apa bunyinya.

Aku pun mengusulkan “nanti, kita makannya selele berdua ya? biar romantis gitu.” dengan nada yang tidak memaksa, hanya saja terdengar ingin dituruti.

Pacarku heran, membuat wajahnya terlihat mirip dengan wajah mantanku. “berdua gimana maksud kamu?” tanya pacarku, terdengar seperti menagih sebuah penjelasan.

“iya. selele berdua. Aku makan bagian kirinya dan kamu bagian kanannya. Nah, ntar kepalanya kita kasih kucing. Serukan?” jelasku menerangkan.

Pacarku semakin terlihat heran mendengar penjelasanku, sehingga membuat langkah dan gerakannya terlihat seperti orang yang heran.

“ah, kamu! Mana bisa selele berdua? nanti nasinya belum habis, lelenya udah habis. Memangnya lelenya sebesar apa sih?” jawab pacarku, nada suaranya terdengar seperti suara ibunya saat sedang belanja di pasar.

“bisa kok. kalau aku bilang bisa, ya bisa. Mau seberapa besar lelenya, dimakan berdua pasti bisa. Kalo nasinya belum habis, kan masih ada sambel sama lalapannya.” balasku, nada-nadanya sih terdengar egois.

Pacarku langsung menghentikan langkahnya, menyeretku ke dalam percakapan tanpa perjalanan.

“tapi aku kan…” jelas pacarku, dan langsung saja aku potong sebelum jadi panjang. “gak pake tapi aku kan-tapi aku kanan. Pokoknya, selele berdua. Ini kan demi keromantisan hubungan kita berdua.”

Aku mencoba tegas, agar kesan pria penuh kewibawaan nampak pada diriku di mata pacarku.

“ih, kamu! Aku pulang nih?” balas pacarku dengan suaranya yang menyerah ingin menang di hati, bisa juga dibilang manja.

“ya sudah, pulang saja. Aku bisa mengerti. Coba, kurang pengertian apa aku sama kamu? Hati-hati kamu di jalan, biarlah aku makan lele sendiri saja.” balasku dengan pesona alam perpisahan.

Pacarku pun meninggalkan ku tanpa berkata-kata lagi, berjalan menunduk, terlihat seperti ingin dikejar dan dibawa kembali.

Begitu ceritanya. Dan sampai sekarang pacarku masih ngambek. Semoga pengalamanju dengan pacarku ini tidak sampai terjadi pada kalian. Harapan ku, semoga kalian tidak bertengkar hanya karena hal sepele. Dan semoga kalian tidak menganggap sepele semua persoalan yang ada.

08112013/HR

Malam minggu

Malam minggu ini? Entah lah, belum ada ide.

Malam minggu kemarin? Biasalah, makan malam berdua kekasih hati.

Aku dan pacarku makan malam romantis di atas sebidang tanah yang berestoran. Kami duduk terpisah, hadap-hadapan, diantara meja bundar berkain persegi. Bersendau-gurauan menunggu hidangan, pacarku sangat lah menawan.

Tak terasa hidangan sudah dari tadi menantang di bawah dagu. Sang menu yang terpilih itu pun marah. Dia menjambak mata untuk menghadap, menendang hidung agar menghirup, memaksa mulut untuk menerima suap. Karena lambung sudah merajai hati, makan malam pun meletup.

Pacarku tersenyum sambil memasukan sendok makannya yang menampung ratusan butir nasi yang saling berpelukan dengan potongan daging ayam yang lembut, yang dipersatukan oleh hangatnya rasa, berselimutkan kuah yang kental akan alam.

Pacarku mengunyah semuanya dalam satu suapan, sambil se-sekali menatap wajahku dengan kedua matanya yang seolah-olah berkata “oh, sayangku. Biarkan lah mulutku menarik hidangan yang tergeletak. Dan biarkan lah lidahku meresap seluruh khasiatnya!”

Pacarku memiliki wajah yang mengikat, bagai penjara bagi pemandang liar. Sebutir nasi yang mencoba melarikan diri pun akhirnya tertangkap lidah, setelah berusaha ke luar memanjat bibir pacarku yang memerah karena pukulan si sambal sang pemberontak.

Akhirnya minuman datang melegakan acara makan malam minggu dengan pacarku, merindangkan kembali kerengkongan kami setelah badai lauk-pauk menerjang hebat. Keringat metabolisme pun mulai menghilang, entah pergi kemana, atau mungkin memilih untuk menetap di serat pakaian dalam kami.

Makan malam pun berakhir sukses, romantis. Ditutup meriah acara penerbangan selembar kertas merah berharga ke atas meja kasir.

Sebelum bersendawa “memangnya, kamu sudah punya pacar?” pacarku bertanya padaku. “belum.” aku menjawabnya.

Si maskot Prancis yang necis itu pun berkokok, mengusir kami dari restoran ala Prancis. Pacarku pergi menghilang seiring aku membuka mata dari tidur malam.

malam minggu besok? entahlah, belum ada…

16112013/HR

Makhluk asing

Tiba-tiba saja, semua makhluk asing ingin menguasai negriku. Jenis dan bentuk mereka beraneka-ragam: ada yang berkepala dua, ada yang kepalanya besar, dan ada juga yang mulutnya lebar. Ada yang tangannya panjang, ada juga yang tangannya lepas, dan ada juga yang tangannya dari besi. Ada yang bertopeng, ada pula yang bermuka dua, dan ada juga yang bermuka badak. Ada yang perutnya buncit, ada pula yang dadanya tebal, ada juga yang berbulu domba. Bahkan ada yang berkepala udang, dsb,- sungguh menyeramkan.
Mereka semua pemangsa handal. Makanan favorit mereka adalah sapi perahan, baik itu yang masih muda atau yang sudah tua. Bahkan mereka suka mencari kambing hitam untuk dijadikan cemilan. Dan mereka semua jenis penghisap darah, yang selalu haus darah. Hiburan mereka hanya satu, yaitu: adu domba, mereka menontonnya sambil terbahak-bahak.
Mereka tinggal di hutan, di dalam hukum rimba, dan mereka suka mengambil jalan pintas. Mereka suka unjuk gigi untuk menakut-nakuti pedagang lokal yang melintas hingga lari terbirit-birit.
Aku tak sanggup membayangkannya, jika semua mahkluk asing itu dibiarkan berkeliaran di negri ini. Dan tak terbayang dalam benakku, jika penduduk negri ini malah menjadikan makhluk asing tersebut sebagai sosok yang menginspirasi.

07022014/HR

Wahai

Mungkin pernah berjumpa, atau mungkin tidak pernah bertemu.
Yang di sana menarik hati ku, atau mungkin aku yang menarik hati yang di sana.
Yang di sana seorang diri, atau mungkin aku yang masih sendiri.
Dari sini aku berharap, atau mungkin aku yang diharapkan.
Dari sini aku menyapa, “wahai lawan jenis ku. Bolehkah aku menjadi dekat dengan mu?” bertanya kepada gadis yang membaca tulisan ini.

11022014/HR

Poli si nelayan

Menangkap satu ikan kakap lebih menguntungkan daripada menangkap sepuluh ikan teri. Satu ikan kakap bisa dijual dengan harga yang tinggi, sedangkan sepuluh ikan teri tidak ada harganya. Satu ikan kakap bisa membuat si nelayan kenyang selama beberapa hari, sedangkan sepuluh ikan teri tidak mengenyangkan. Satu ikan kakap bisa membuat si nelayan hidup mewah selama beberapa hari, sedangkan sepuluh ikan teri tidak berarti apa-apa.

maka, berkatalah Poli si nelayan: “kelas kakap itu bisa menambah isi dompet saya. Sedangkan kelas teri hanya membuat saya lelah saja.”

Setiap nelayan memimpikan tangkapan besar setiap kali berlayar. Tangkapan besar bisa membuat si nelayan mendapatkan banyak bonus. Dan dengan bonus itu si nelayan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, menafkahi keluarganya, tanpa mengurangi upah hariannya. Sedangkan tangkapan kecil tidak terlalu menolong si nelayan, hidupnya tetap saja pas-pasan. Sering dapat tangkapan besar bisa membuat si nelayan menjadi terkenal. Sedangkan tangkapan kecil hanya membuat si nelayan terpuruk.

maka, berkatalah Poli si nelayan: “tangkapan besar itu bisa membuat saya dihormati, dan baik buat karir saya. Sedangkan tangkapan kecil hanya membuat saya repot saja.”

17022014/HR